SIRRI DIBALIK AWAN MENDUNG

SIRRI DIBALIK AWAN MENDUNG
Karya: GALAN AHMAD DEFANKA

Sore itu suasana sedang gencar-gencarnya, Aku dan Rio berlari ke ruang administrasi supaya Ria bisa segera dioprasi oleh pihak rumah sakit. Tak ada yang namanya mengulur waktu kala itu, setiap menit setiap detik bahkan, sepersekian detik pun tak ternilai harganya.
“Sus! Berapa jumlah yang harus saya bayar untuk oprasi adik saya sus?” Tanya Rio dengan mengorek-ngorek dompetnya yang hanya ada uang picisan saja. Tak jauh beda denganku.
“Namanya Ria sus!!!” Aku dan Rio menjawab dengan serempak. Suster itu sibuk mencari nama dengan komputernya, tiba-tiba Aku melihat sosok yang tak asing menurutku berjalan keluar rumah sakit dengan pakaian alakadarnya.
“Maaf! Pasien yang bernama Ria sudah ada yang melunasi beberapa menit lalu.” Saut suster membuat kami bertanya-tanya. Jangan-jangan? Perasaan yang Aku rasa tadi. Apakah dia orangnya?
***
“Yah! Kapan kita mau pergi wisata malam yang baru itu?” Tanya Ali dengan mata yang sangat berharap.
“Sabar ya nak…nanti kalau jualan kerupuk ini habis, insyaallah bapak ajak kamu kesana.” Kataku dengan mengelus-elus rambut hitamnya yang tebal. Walau dalam hati kian berbisik yaa Allah berilah hamba kecukupan membuat anak semata wayang hamba senang yaa Allah.
Malam itu kami berjalan dengan putus-asa membawa dagangan yang masih utuh. Tetap terlihat tegar dihadapan Ali adalah tantangan, karena jika Aku tumbang maka Ali akan berpikir jika Ayahnya tidak bisa membawanya ke wisata malam yang dipenuhi perasaan gembira.
“Tiiiinn!!!…” Klakson mobil dengan sorot lampu mengagetkankanku dan Ali. Menutupi silaunya pandangan dan lebih menepi ke pinggir jalan.
“Pak! Saya mau beli semua kerupuk yang bapak jual?” Kata seorang perempuan yang keluar dari mobil merah dengan mengeluarkan dompetnya. Bingung sebentar namun, langsung kusiapkan semua daganganku dan kumasukkan ke mobil perempuan itu.
“Ini pak uangnya!…sisanya ambil aja buat adik kecil yang lucu ini.” Ujar perempuan itu memberikan uang yang jumlahnya setinggi langit dari total harga semua kerupuk.
“Yeeeaayy…dagangan bapak laku. Horee kita jadi pergi ke wisata malam itu….” Sorak Ali dengan menunjuk-nunjuk kegirangan tempat yang ia impikan.
Perempuan itu sempat menengok ke belakang tepat dimana jari kecil Ali mengarah. Ia tersenyum dan memegang pundak Ali.
“Adik mau kesana?” Tanya perempuan itu. Ali hanya mengangguk senang.
“Yaudah bareng kakak saja sekalian!” Ajak perempuan itu dengan lembut.
Sejak malam itu kemana pun saat kami berdagang dan bertemu sosok perempuan itu. Ia selalu membantu kami dengan tulus namun, saat itu kami sedang duduk di sebuah taman dengan perempuan itu dan ada dua orang pria yang datang dengan muka marah.
“Ria!!! Ngapain kamu disini?”
“Tapi kak…Aku bosen di rumah terus.” Protes perempuan itu.
“Udah ayo pulang! Malah main sama orang kelas rendahan seperti mereka.” Tatap sinis dari kakak perempuan baik itu. Mereka pun pergi meninggalkan kami dengan kata-kata kasar yang masih berbekas.
***
Dagangan tinggal beberapa, namun Aku cukup senang dengan hari ini. Senyumku tak dapat kubendung dan Ali semakin penasaran melihatku sepertinya.
“Yah! Kenapa tadi kita tidak menemui kak Ria? Kan kita tadi udah bantu biayanya.” Tanya Ali dengan kecewa.
“Ali dengar yaaa… Layaknya kejelekan, kebaikan juga lebih baik jika tidak diumbar-umbar dan menolong itu harus ikhlas. Kita doakan saja agar oprasi kak Ria berlangsung lancar dan bisa cepat pulih kembali.” Kataku dengan memegang erat kedua bahu anakku yang masih polos.


Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *