Cadar, Kupluk Ustadz Evie, dan Curiga di Antara Kita

640562_6202
foto:TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Meski sudah dicabut, kebijakan “Larangan Cadar” bagi para mahasiswi di UIN Sunan Kalijaga (Suka), Yogyakarta masih menjadi perbincangan panas di banyak tempat. Duduk permasalahan kebijakan tersebut adalah adanya saling curiga, baik pihak yang membuat kebijakan dan orang-orang yang merasa dirugikan dengan kebijakan tersebut.

Pihak pembuat kebijakan beralasan bahwa kebijakan ini muncul untuk mengantisipasi masifnya gerakan ideologis yang menentang Pancasila dan NKRI, penyebaran paham radikal, juga alasan prosedur kampus yang mengharuskan seluruh mahasiswa bisa dikenali lewat wajahnya. Sedangkan pihak yang merasa dirugikan, kebijakan ini dianggap wujud pengekangan atau diskriminasi terhadap hak dasar seseorang atau kelompok dalam berbusana, apalagi yang dilarang adalah “busana Islam”. Tidak jarang terlontar sindiran bahwa UIN Suka telah menjadi kampus yang Anti-Islam, diskriminatif terhadap Islam, dan sebagainya.

Kecurigaan pihak kampus kepada mahasiswinya yang bercadar yang berujung diterbitkannya pelarangan cadar kiranya terlalu berlebihan mengingat busana merupakan hak (otoritas) bagi siapa saja dan tidak dapat begitu saja dinilai sebagai citra dari sebuah gerakan atau paham tertentu. Apalagi di dalam Islam, busana tak hanya dipakai untuk menutup aurat melainkan sebuah wujud ketundukan seorang muslim kepada Sang Pencipta yang notabene bernilai ibadah. Busana juga menjadi simbol identitas, kehormatan, sekaligus menjadi pelindung dari bahaya kejahatan manusia.

Mestinya, jika ada kecurigaan adanya gerakan tertentu maka langkah awal ialah mengenali dan menelusuri kegiatan yang bersangkutan, apakah memang benar mereka terlibat dengan ideologi tertentu yang bertentangan dengan negara atau tidak. Kalau memang terbukti, langkah selanjutnya adalah menindak dan juga usaha preventif lainnya yang tidak menimbulkan polemik di masyarakat. Kedua, jika faktor keamanan yang menjadi alasannya, pihak kampus bisa mencari solusi lain untuk pesoalan ini.

Begitu sebaliknya, tuduhan perbuatan diskriminasi oleh pihak kampus kepada para mahasiswi yang bercadar juga berlebihan, mengingat UIN merupakan kampus Islam terbesar di bawah naungan Kementerian Agama. UIN merupakan lembaga pendidikan yang menerapkan banyak studi spesifik mengenai Islam, seperti Pendidikan, Ilmu Al-Quran, Ilmu Hadis, Perbandingan Mazhab, Fikih, dan lainnya. Jadi, terlalu jauh jika menuduh UIN Suka atau UIN lainnya anti dengan Islam.

Mestinya pihak yang merasa dirugikan dengan kebijakan tersebut tidak serta menuduh UIN Suka bertindak seolah-olah diskriminatif terhadap Islam sebagai agama (anti-Islam). Kebijakan atau peraturan yang dikeluarkan kampus untuk civitas akdemiknya merupakan otoritas dari kampus tersebut. Jika kebijakan atau peraturan tersebut dianggap tidak beralasan atau dirasa merugikan orang atau kelompok tertentu, hal tersebut tentu masih dapat dikonfirmasi dan dikomunikasikan secara langsung kepada pihak kampus.

Kupluk Ustadz Evie

Di Bandung baru-baru ini muncul seorang penceramah yang nyentrik dalam berbusana. Penceramah bernama Evie Efendi atau dikenal dengan panggilan Ustadz Evie atau Ustadz Gapleh (Gaul tapi Soleh) ini ketika berceramah kerap menggunakan kupluk, jaket kulit, kaos oblong. Ustadz Evie seakan ingin menabrak imej seorang ustadz yang biasanya berpakaian terkadang serba putih, memakai peci, sorban, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, bisakah begitu mudah kita boleh menyalahkan gaya berpakaian Ustadz Evie itu sementara gaya dan cara berceramahnya begitu banyak diterima banyak kalangan, khususnya remaja dan mampu menggerakkan ribuan orang untuk berhijrah?

Bisakah begitu mudah kita boleh menyalahkan Ustadz Evie yang memilih dirinya tak ingin terlihat seperti kebanyakan ustadz lainnya sementara selogan dan ajakan-ajakannya selalu diikuti banyak orang dan pengajian tausiyahnya selalu dibanjiri orang?

Polemik Cadar dan kehadiran Ustadz Evie kiranya sudah cukup menyentil rasa curiga yang kerap kita bangun kepada siapa saja dan di mana saja. Petuah ‘Jangan menilai buku dari kovernya’ bagi sebagian orang mungkin hanya petuah normatif yang tidak mutlak ditaati. Nyatanya, tidak sedikit orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama ketika melihat sebuah kover buku.

Kover buku serupa dengan busana yang kita kenakan. Selain pelindung tubuh, kover juga berfungsi sebagai alat untuk memperindah. Itulah mengapa kover atau busana dapat saja dipandang simpel, mewah, atau bahkan ‘kacangan’. Begitu pun busana kita. Jadi, begitu mudahkah kover atau busana merepresentasikan citra bagian dalamnya atau si pemakainya?

Sumber: tempo


Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *