Kopi

Gambar oleh Arek Socha dari Pixabay

“Tidak ada yang begitu amat mengena di hati selain rasa manis yang muncul dari isak tangis bersama. –Rousseau.

Kawan, izinkan saya bicara sedikit perihal kopi. Tentu bukan dalam perspektif ahli apalagi seorang sufi. Ini murni dari seorang penikmat kopi. Tidak lebih.

Bicara kopi, tentu kita akan banyak menemukan seabrek informasi di alam daring, misalnya dalam hal bahasa. Kata “kopi” diadaptasi dari bahasa Arab “qahwa” atau “kahve” dalam istilah Turki. Kata ini mulai diadaptasi ke dalam banyak bahasa Eropa sekitar tahun 1600-an, seperti bahasa Belanda “koffie”, bahasa Perancis “café”, bahasa Italia “caffè”, bahasa Inggris “coffee”, bahasa Cina “kia-fey”, bahasa Jepang “kehi”, dan bahasa melayu “kawa”. Hampir semua istilah untuk kopi di berbagai bahasa memiliki kesamaan bunyi dengan istilah Arab. (Wiliam H. Ukers dalam All About Coffe (1922) seperti disitir oleh laman sasamecoffee.com.)

Kopi, sejak tahun 1453, sudah diperkenalkan oleh Ottoman Turki di Konstantinopel. Kedai kopi pertama di dunia yang bernama Kiva Han pun berada di kota ini, tepatnya dibangun 22 tahun setelah diperkenalkan.

Saya percaya jika kopi merupakan salah satu minuman favorit orang-orang saleh. Dulu waktu nyantri, saya pernah mendengar seorang kiai bercerita, kopi dan rokok adalah teman sehari-hari kaum santri. Para santri meminum kopi agar bisa terjaga di malam hari untuk membaca kitab kuning, dan rokok menjadi alat penerangannya. Tak hanya sebagai alat untuk menghilangkan kantuk, kopi pun menjadi sarana untuk berzikir. Saat mengaduk kopi, konon hitungan mengaduknya dihitung sampai 33 kali ke arah kanan dan 33 kali ke arah kiri. Terus terang, cerita itu sangat memesona saya.

Cerita lain yang pernah saya dengar adalah kisah Syaikhona Kholil Bangkalan yang kerap menyuguhkan kopi kepada para tamu yang sowan. Suatu hari, saat Mbah Kholil sedang menemani tamu-tamunya, tiba-tiba datang seseorang dengan pakaian lusuh sambil membawa seekor anjing. Tanpa malau-malu, orang tersebut menyeruput kopi milik Mbah Kholil hingga tinggal ampasnya. Semua orang kaget, kecuali Mbah Kholil. Seketika Mbah Kholil terdiam dan mengubah posisi duduknya seperti posisi duduk orang yang sedang shalat, telapak tangannya menyatu di atas paha, kepalanya menunduk tanpa berani menatap muka orang tersebut. Orang tersebut pun kemudian berlalu tanpa sepatah kata. Selepas ia pergi, Mbah Kholil berkata: “Siapa yang mau meminum kopi bekas tamuku tadi?” Semua diam. “Kalau begitu biar saya yang menghabiskan,” kata Mbah Kholil sambil meminum sisa kopi di cangkir.

Semua tamu bingung dibuatnya. Mbah Kholil lalu berkata: “Yang datang itu Nabi Khidir, beliau baru saja mengunjungi sahabatnya seorang wali di Yaman dan Sudan, kemudian melanjutkan perjalanan ke sini untuk menemui para Waliyullah di tanah Jawa.” Mendengar penjelasan Mbah Kholil, para tamu sontak berebut sisa kopi yang tinggal cangkirnya itu. Mbah Kholil cuma bisa ketawa.

Pembahasan kopi juga tidak luput dalam literatur kitab klasik, Syaikh Ahmad Dahlan Ibn Abdullah, ulama dari Semarang dalam Tadzkiratul Ikhwan li Bayanil Qahwah wad Dhukhan mengatakan perihal keutamaan kopi sebagai berikut:

???? ???? ???? ?? ?? ????            ??? ???? ????? ??? ?????

???? ?????? ?????? ????            ???? ????? ???? ??????

?Artinya: “Haruslah bagimu mengonsumsi kopi setiap waktu, dalam mengonsumsi kopi ada lima faedah, semangat, pencernaan, menghilangkan riak, membaguskan napas, dan membantu orang yang berhajat.”

Dalam kitab yang kemudian diringkas dalam bentuk nadzam oleh Syaikh Ihsan Jampes tersebut, Syaikh Ahmad Dahlan juga banyak mengutip pendapat Imam At-Tarabusi yang menganjurkan untuk meminum kopi tanpa gula untuk mendapatkan manfaat yang baik. Sekali lagi, ini menandakan bahwa sudah sejak lama meminum kopi menjadi rutinitas orang-orang saleh dan para ulama.

Tak hanya dalam hal pengonsumsiannya, kopi juga telah lama menjadi komoditas para kiai. Gusdur dalam bukunya, Islam Kosmopolitan mengatakan bahwa kopi dan tanaman lain (tebu dan tembakau) telah lama menjadi alat bisnis para kiai untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke Timur Tengah. Anak-anak muda itu kelak menjelma menjadi korps ulama yang menguasai ilmu-ilmu agama dan menjadi ulama tekemuka di semenanjung Arabia, khususnya di Makkah, seperti Kiai Nawawi al-Bantani, Kiai Mahfudz al-Tarmasi, Kiai Abdul Ghani Bima, Kiai Arsyad al-Banjari, Kiai Abdus Shamad al Palimbani, Syaikh Kholil Bangklan, dan Hadratussyaikh Kiai Hasyim As’ari.

Kawan, terlepas dari semua sejarah dan cerita tentang kopi yang memesona itu, sisi lain yang membuat saya tertarik pada kopi adalah kenyataan bahwa ia telah banyak melatih sisi spiritual saya sebagai manusia. Kopi bagi saya tak sekadar sebuah minuman pahit dan asam yang berpadu di lidah. Lebih dari itu, ada sisi kekhususan yang sakral dalam sebuah kopi. Kopi banyak mengikis hal-hal teknis dalam hidup yang selalu diulang berhari-hari. Kegelisahan, ketakutan, yang kerap menyita perhatian saya kerap luluh saat berdekatan dengan kopi. Jika Rumi selalu mabuk pada syair dan musik, mungkin saya merasakan yang sama pada sebuah kopi. Kopi kerap menyuguhkan saya berbagai keistimewaan: ruang khusus dalam keheningan, begitu romantis, emosional, penuh kenikmatan dan keindahan. Bukankah Tuhan itu indah?

Kopi mengajarkan banyak hal, kesabaran, penghormatan, ketulusan, dan bagaimana menjadi teman. Kopi bagai musik yang membuai rumus-rumus matematika menjadi puisi. Puisi yang tak henti-henti membuat kita terjaga. ‘Kopi’ dan ‘terjaga’ mesra dalam hukum kausalitas. Lalu apa yang dapat kita perbuat jika terjaga? Banyak! Keterjagaan melahirkan kesadaran lahiriah dan batiniah, yang mungkin dijelmakan oleh para santri tadi menjadi zikir-zikir.

Kopi menjadi identik dengan kata-kata puitis: janji jiwa, kenangan, lain hati, dan sebagainya. Kopi jadi semakin menampakkan eksistensinya sebagai penghuni keharmonisan, keheningan, dan kebersahajaan. Begitulah kopi. Selalu saja bermesraan dengan kata-kata puitis dan kunci mesra segala hubungan. Karenanya, ia begitu spesial. Kopi diminum dengan persiapan, diseduh atas landasan suasana. Disuguhkan begitu sakral dan mendalam.

Jadi, tak dimungkiri, kopi telah menjadi salah satu tren hidup umat modern. Kopi kerap menjadi selipan kata basa-basi atau lobi-lobi politik, kopi kerap mencairkan suasana dan membangun kekraban. Begitulah kopi tidak pernah minta royalti meski namanya banyak dijualbelikan, tidak pernah dianggap pahlawan meski banyak menyelamatkan banyak orang.

Kawan, apa pun jenis kopi favoritmu, entah robusta, liberika, atau arabika, semuanya memiliki pesonanya masing-masing. Siapa pun Anda, dengan cara apa pun Anda menikmati kopi. Kopi tetaplah kopi, tak peduli diminum oleh santri, bukan santri, anak milenial, tua, muda, laki-laki, perempuan, kopi tetaplah kopi, ia bukan karena ia bukan milik pribadi atau mencibir orang lain seolah-olah kau yang paling menegerti kopi. Bukan begitu kawan. Entah apa pun aliran Anda, hitam, pakai gula, campur susu, campur ini-itu kopi tetaplah kopi.

Kopi mengajarkan sebuah arti mesra sebuah perkawanan. Dari kopi, kita bahkan bisa menciptakan tawa canda yang membuncah, terkadang berbagi kesedihan, tapi tak mengapa, toh kesedihan akan manis rasanya jika dalam kebersamaan, seperti kata Rousseau. (H.A. Ramadan 1441 H.)


Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *