Nikmat Menjelang Ramadhan

Ramadhan kali ini merupakan ramadhan kedua tidak bersama-sama dengan keluarga. Saya masih merada di daerah perantauan untuk menuntut ilmu. Sedih ketika melihat teman-teman yang lain bisa berkumpul bersama keluarga untuk menyambut ramadhan, sementara diri ini hanya seorang diri. Bersua hanya via suara tanpa bisa menatap kedua orang tua. Tetapi, hal ini tidak membuatku lemah dalam menyambut ramadhan. Justru diri iini semakin terpacu untuk melakukan yang terbaik demi kebahagiaan ayah dan ibu.
Dua hari menjelang ramadhan, tepatnya pada hari sabtu, tubuh ini rasanya pegal-pegal semua keringat dingin mulai bercucuran. Ya, menjelang dua hari itu saya terserang demam. Di situ saya sempat mengeluh mengenai sakit yang saya alami dan bertanya kepada Allah “Ya Allah mengapa engkau timpakan sakit ini, padahal dua hari lagi ramadhan?”. Ada hal lain juga yang saya khawatirkan ketika sakit, yaitu siapa yang mau mengurusi saya jika sakit, sedangkan posisi saya jauh dari orang tua.
Pada saat itu, terpaksa saya harus pulang ke kost, karena sudah tidak kuat lagi. Teman-teman saya juga menyarankan untuk pulang dan istirahat. Waktu itu, saya sedang berada di luar, karena ada kegiatan salah satu organisasi yang saya ikuti. Ketika pulang ke kost pun, saya tidak langsung istirahat, saya harus repot untuk menyiapkan makanan agar bisa minum obat. Dengan kondisi yang seperti itu, saya harus berusaha sendiri.
Setelah sholat maghrib, saya mulai makan dan minum obat. Kemudian saya berbaring sebentar untuk mengistirahatkan diri. ketika itu saya sempat berpikir bagaimana kondisi kedepannya jika terus sakit seperti ini. Pada saat itu juga saya teringat dengan sebuah hadist yang berbunyi:
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya,
melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya
seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Dan saya juga teringat dengan kata-kata yang semakin membuat saya merasa sangat berdosa kepada Allah swt.
Ketika kita sakit Allah tarik kekuatan dan keceriaan di wajah kita,
Allah tarik selera makan kita,
dan Allah tarik dosa kita.
Apabila sudah sembuh,
Allah kembalikan lagi kekuatan dan keceriaan wajah kita,
Allah kembalikan lagi selera makan kita,
Tetapi Allah tidak kembalikan lagi dosa kita.

Pada saat itu, saya menagis tersedu-sedu, ternyata Allah itu sayang sama saya. Allah memberikan rasa sakit semata-mata hanya ingin menggugurkan dosa-dosa saya. Tetapi berbanding terbalik dengan reaksi yang saya berikan, saya hanya mengeluh saja dan merasa marah kepada Allah. Kemudian tak hentinya saya beristighfar, atas apa yang telah diperbuat sebelumnya. Memohon kepada Allah atas dosa-dosa yang telah saya lakukan dan dosa-dosa karena tidak terima atas rasa sakit yang Allah berikan.
Intinya Allah ingin hamba-Nya menyambut ramadhan dengan hati yang bersih, agar bisa menjalankan puasa dengan sebaik-baiknya. Karena bulan ramadhan merupakan bulan yang suci, jadi sangat disayangkan ketika menyambutnya dengan hati yang kotor. Bisa jadi kita tidak akan maksimal menjalankan puasa dan kemaksiatan masih dilakukan karena terlalu mengikuti hawa nafsu akibat dosa-dosa yang belum dibersihkan.
Sakit itu bukan sebuah musibah, justru ia merupakan sebuah nikmat jika kita mau bersabar. Nikmat yang begitu luar biasa, karena begitu baiknya Allah menghapuskan dosa-dosa. Tak henti-hentinya diri ini mengucap syukur atas nikmat yang diberikan. Di saat diri ini lalai kepada-Nya bahkan hampir jauh dari-Nya, dengan begitu baiknya Allah datangkan rasa sakit yang menggugurkan dosa.
Maa syaa Allah ramadhan kali ini tak hanya menjadikanku lebih dewasa, tetapi juga membuatku lebih banyak bersyukur kepada-Nya dan senantiasa berhusnuzon atas apa yang diberikannya. Banyak hikmah yang dipetik dari setiap peristiwa. Semua yang Allah berikan semata-mata hanya untuk kebaikan hamba-Nya.


Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *