Mencari Makna Keluarga dan Cinta

Hanya berselang beberapa hari sejak dilahirkan, Soli yang masih bayi ditinggalkan Titin, ibunya, yang memilih kembali menjadi piaraan Baba Ong. Sejak itu Soli hidup bersama Mak Kesih, neneknya yang bersedia merawat dan membesarkan Soli.

Ayahnya tidak ada yang tahu. Entah  siapa yang telah menanamkan benih di rahim Titin.

Mak Kesih mengajak Soli bekerja ke mana saja. Jadi buruh sawah milik orang kota, memulung sampah, memecah batu, dan lainnya. Soli remaja kian cantik. Anugerah sekaligus ancaman baginya. Di suatu malam yang gelap, seorang durjana merenggut kehormatannya.

Beberapa hari kemudian, Mak Kesih menghabisi nyawa sang durjana. Warga yang terhasut mengusir Mak Kesih. Membakar pondoknya. Beruntung dia bisa menyelamatkan Soli. Keduanya melewati perjalanan berat. Berbagai kepayahan yang dialami membuat Mak Kesih menghembuskan nafas terakhir.

Setelah itu, Soli terlunta-lunta di jantung kota Bandung.  Berhari-hari dia merasakan kelaparan. Lalu dia bertemu dengan Tunem, sosok wanita yang tinggal di sekitaran stasiun. Soli tinggal bersama Tunem. Dia pun dibantu menemukan ibunya. Namun, sosok yang dirindukannya itu seakan tak punya lagi tempat di hati untuk anaknya.

Menjadi cantik itu sungguh celaka (hlm 37). Di tempat kawasan kumuh, itu berlaku. Kecantikan bisa mengundang malapetaka. Untuk kedua kalinya, Soli mengalami mimpi buruk. Dia disekap selama tiga hari tiga malam. Namun dia berhasil menghabisi sang jahanam.

Pipiet Senja menghadirkan kisah yang memilukan. Mengerikan juga, tapi itulah yang terjadi. Tentang kejamnya kehidupan yang terjadi di kawasan kumuh. Harta yang membuat silap mata. Kemiskinan yang menjadi kejam. Merusak kehidupan. Kemiskinan itulah yang mengundang berbagai kejahatan seperti asusila, pembunuhan, kebohongan, dan tindakan melanggar hukum lainnya.

Setalah bangkrut, Titin mendatangi Soli. Bukan untuk mengasihinya, seperti ibu dan anak, melainkan menjualnya kepada

Baba Liong. Namun disitulah titik balik kehidupan Soli. Dia belajar banyak hal. Punya kemampuan yang melejit. Perlahan, Soli mampu membangun bisnis Bana Liong. Dia pun berhak sebagian besar hasil kemajuan bisnis.

Bahkan di sana dia mengenal cinta pertama. Sayangnya karena sebuah persaingan, cintanya pada Nuwa kandas dengan menyisakan cerita yang sangat mirip dengan yang dialami Titin.

Di Belanda, Soli terlunta-lunta, dengan mengandung benih dari Nuwa. Soli diselamatkan oleh keluarga Hartland. Dia menikah dengan dengan Jan, sosok terbelakang mental yang kepayahan hanya mengurus sendiri.

Anaknya lahir. Diberi nama Nuwa. Soli berhasil menjalankan bisnis keluarga Hartland. Satu per satu cabang bisnis menunjukkan kemajuan. Perusahaan meraksasa. Dari pernikahannya dengan Jan, dikaruniai dua anak Beatrice dan Martin.

Novel ini menggambarkan sebagian besar yang dialami para pengusaha sukses. Di balik kesuksesan mengelola bisnis, ada keluarga yang dikorbankan. Soli mencurahkan semua energi untuk kelanggengan bisnis semata. Jauh dari anak-anaknya.

Terlalu sayang dengan singgasana kesuksesan dunia sehingga abai dengan keluarga. Hingga pada akhirnya, ketika kehilangan itu akan diraih kembali, harga yang dibayar terlalu mahal. Jan ditemukan tewas dengan sakit komplikasi. Waktu tak bisa diputar. Satu persatu musibah menghampiri.

Sang cucu, Max bersikeras mencari sosok sang kakek di pedalaman Papua. Berbagai tantangan harus dilaluinya sampai menemukan sang kakek, Nuwa. Sekaligus mempertemukan dengan Neneknya. Mampukah Max yang telah mengubah namanya menjadi Faiz, mewujudkan tekad itu? Dengan informasi yang sangat minim pula. Sementara itu, dia dihadapkan pada permasalahan yang dialami masyarakat ada di Papua.

Romansa 2 Benua adalah potret buram kegagalan keluarga yang rentan karena godaan ekonomi. Menyadarkan pada kita apalah guna kesuksesan yang diraih jika keluarga hancur berantakan. Keharmonisan keluarga itulah yang mestinya kita upayakan dan pertahankan.

Judul               : Romansa 2 Benua

Penulis             : Pipiet Senja

Penerbit           : Emir (Penerbit Erlangga)

Cetakan           : 2019

Tebal               : 233 halaman

ISBN               : 978-602-093-524-9

Sumber            : Harian Singgalang


Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *