Lepaskan cadar itu!

Ikatan dibelakang kepala itu sudah hampir terbuka. Hanya dengan satu tarikan dan penutup wajah itu akan terlepas sepenuhnya. Namun tangan Aqila masih terpaku, berbanding terbalik dengan pikirannya yang sedari tadi bergemuruh.
‘Tidak ada salahnya kan memberikan yang lebih kepada sang Ilahi? Toh ini untuk menjaga diri dari pandangan lelaki dan dosa yang keji.’ batinnya berujar hal yang sama berulang kali.
Tapi setiap kali batinnya berusaha menahan diri, pikirannya akan selalu menghalangi.
‘Jika dengan menggunakannya membuat orang yang memakainya menjadi menutup diri terhadap dunia ini, lantas apakah hal itu masih merupakan suatu hal yang baik? Beribadah hanya untuk diri sendiri dan tidak memperdulikan orang lain. Tidakkah itu terdengar sangat egois? Kau paham banyak tentang ilmu agama, tapi adanya pengahalang itu menjadikan orang takut untuk bertanya, pun kau tidak akan berani berbicara didepan orang banyak dengannya. Akan ada yang mengatakan tidak pantas karena kau harusnya tidak terlihat. Lagipula, ada banyak muslimah lain yang tidak memakainya, tapi mereka masih tetap bisa menjaga diri dan kehormatannya. Lantas, apakah penutup itu memang perlu? Sebanding kah pengorbananmu dalam mengenakannya dengan yang akan kau dapatkan kelak? Padahal sebagian mazhab mengatakan bahwa wajah bukanlah aurat, jadi hukumnya tidaklah wajib. Pun negara ini tidak seperti negara Saudi sana. Mengapa lebih memilih jalan yang berat dan susah?’
Aqila menghela napas berat. Tangannya sudah ia turunkan karena penat setelah sekian lama terangkat tanpa melakukan apapun. Batin Aqila bergejolak dengan penuh perasaan bersalah. Tak seharusnya ia merasa ragu, kan? Apa yang salah dari melakukan sesuatu yang baik? Lagipula, ia sudah terlanjur memakainya. Hal yang sebelumnya membuat Aqila yakin untuk menggunakannya dulu, kenapa sekarang tak mampu membuatnya mempertahankan itu?
Di waktu yang sama, Aqila merasa tidak nyaman dengan pandangan aneh yang diterimanya dari orang lain. Harusnya dengan mengenakan cadar dirinya akan merasa aman, kan? Namun yang Aqila rasakan justru sebaliknya.
Dirinya menjadi pusat perhatian karena hanya ia yang berbeda. Orang-orang—khususnya lelaki—memandangnya dengan pandangan ingin tahu. Menelisik lebih dalam untuk menemukan jawaban; apakah paras yang terlihat indah karena tertutup itu benar-benar indah atau hanya ilusi belaka karena mereka tidak bisa melihatnya? Apakah ia menggunakannya benar karena Allah atau hanya sekedar ingin terlihat indah dengan menutupi kekurangannya?
Aqila juga merasa ia tidak bisa mengembangkan bakat dan kemampuannya dengan baik. Orang-orang menjauhinya dan ada banyak hal yang tidak bisa ia lakukan mengingat pakaiannya. Geraknya menjadi terbatas.
Perdebatan pelik antara pikiran dan batinnya sendiri membuat fisiknya ikut merasa lelah. Perlahan kedua netra indah itu terpejam dan larut dalam tidur tanpa buaian mimpi. Lelah memang benar bisa membuat tidurmu lelap. Mungkin tubuh ingin beristirahat sebentar dari kenyataan yang melelahkan.
Tepat jam tiga pagi di malam terakhir bulan suci ramadhan tahun ini, gadis itu terbangun. Merasa seolah ada sesuatu yang membuatnya bangkit. Dengan langkah gontai, Aqila melakukan pembicaraan termesra dengan sang Pencipta. Dimana ia cukup berbicara pasrah dalam untaian doa dan Ilahi akan mendengarnya dan memberikan jawaban dengan jalan-jalan yang tak terduga.
Aqila menangis dan menyampaikan keluh kesahnya. Lama dan sangat panjang. Tak pernah bahkan dirinya berbicara seperti itu kepada manusia lain yang menjadi orang terdekatnya. Karena tentu saja alasannya sudah jelas; tak ada yang lebih dekat dengan diri kita sendiri kecuali Allah. Tak ada satu pun yang bisa kita sembunyikan dari-Nya karena dirinya Maha Mengetahui segala sesuatu termasuk yang didalam hati sekalipun.
Hatinya yang bergejolak kian menjadi tenang. Ia telah menemukan jawaban dan kedamaian. Gangguan-gangguan tadi ia anggap hanyalah cobaan iman. Tuhan hanya ingin menguji seberapa kuat dirinya dalam menahan godaan.
Aqila menggenggam jarinya erat. Kini ia yakin. Ia tidak akan melepaskan cadarnya. Semua keraguannya tadi sebenarnya bisa ia selesaikan dengan mudah sedari dulu. Dirinya lah yang harus lebih berani dan membuka diri terhadap orang lain agar mereka tidak takut terhadap dirinya. Kemampuannya yang tidak bisa ia kembangkan dengan mudah itu mungkin bukanlah suatu hal yang Allah ridha terhadapnya. Akan ada pengganti yang jauh lebih baik dari itu, tenang saja. Mungkin bukan di dunia, tapi akhirat nanti sudah pasti ada.
Ia harus bisa mematahkan persepsi-persepsi orang yang salah terhadap wanita lain yang juga mengenakan cadar dan agama ini—bahkan bagi pemeluk agam islam sendiri yang pengetahuan agamanya masih sangat minim. Agama ini tak pernah mengekang siapa pun. Semua hal yang diperintahkan semata hanya demi kebaikan penganutnya. Asalkan kita mau belajar dan mencari tahu alasannya, semuanya indah dan sederhana.


Penulis

3 COMMENTS
  • Melani Septiani
    Reply

    MasyaAllah, tetap istiqomah yaa kak ?

  • misran
    Reply

    Menarik

  • Who am I
    Reply

    I wanna cry,, hiks….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *