Hijrah Terindah

HIJRAH TERINDAH

Yusuf Ibrahim, yaitu nama dari salah satu pemuda dari sebuah desa di kota Jakarta. Ia berbeda dengan pemuda-pemuda lain yang menghabiskan waktu mudanya untuk bekerja atau kuliah, tetapi Yusuf lebih suka mengisi waktunya dengan hal yang menyimpang dari norma masyarakat. Judi, mabuk-mabukan, berpacaran, dan memalak orang ialah kegiatan yang di lakukan Yusuf sehari-hari bersama teman-temannya.
Sebelumnya Yusuf ialah anak yang sholeh dan rutin pergi ke masjid untuk shalat berjamaah dan mengikuti kajian ilmu agama yang di adakan oleh perangkat desa. Tapi, semenjak ia lulus SMK dan di tolak dari perusahaan-perusahaan yang di inginkannya, Yusuf beranggapan bahwa ALLAH SWT tidak memperdulikannya sama sekali.
“Suf, ini sudah masuk waktu dhuhur, kamu ke masjid untuk shalat berjamaah sana.” Suruh Ibunya sambil membangunkan Yusuf yang tengah terlelap di sofa ruang tamu.
“Aduh…. Apaan sih bu, ganggu orang tidur saja.” Kata Yusuf.
“Astaughfirullah, nak. Kamu itu laki-laki, wajib hukumnya kamu pergi ke masjid. Kalau kamu sendiri tidak mau shalat, mana mau ALLAH SWT mengabulkan semua hajatmu.” Nasihat Ibu Yusuf.
“Bu, bisa gak sih sehari saja gak ngatur aku, capek tau gak. Kalau mau ceramah tuh di masjid sana, lagi pula untuk apa aku shalat kalau ALLAH itu gak adil sama aku.” Jawab Yusuf dengan nada tinggi sambil mendorong Ibunya sampai tersungkur di lantai.
Ibunya hanya bisa menangis meratapi anaknya yang tidak mempunyai sopan santun dan tidak takut dengan ALLAH SWT. Sementara itu, Yusuf langsung pergi meninggalkan rumah menuju warung untuk berkumpul dengan teman-temannya. Ia terus menggerutu dan kesal dengan sikap ibunya yang selalu mengatur-atur kehidupannya.
‘Brak…’ Suara truk berkecepatan tinggi menabrak motor Yusuf dengan keras.
Motor yang di kendarai Yusuf remuk, dan tubuhnya terpental beberapa meter dari tempat kejadian perkara. Warga sekitar yang melihat kejadian tersebut, langsung menolong Yusuf dan melarikannya ke rumah sakit terdekat. Darah terus bercucuran sepanjang perjalanan. Salah satu warga berlari menuju rumah Yusuf untuk memberi tahu keadaan Yusuf kepada ibunya.
“Bu Asma… Yusuf, bu.” Teriak warga.
“Ada apa dengan Yusuf?” Jawab Bu Asma dengan perasaan gelisah dan khawatir.
“Yusuf kecelakaan, bu. Sekarang dia di bawa oleh warga ke rumah sakit.” Ujarnya.
Kaki yang awal mulanya tegak kokoh tiba-tiba menjadi sangat lemas, ia sangat sedih mendengar kabar anaknya. Tanpa berfikir panjang beliau dengan segera mengambil sepeda tuanya untuk menuju ke rumah sakit. Ia terus mengayuh sepedanya dengan cepat, air hujan membasahi wajahnya yang bersih dan selalu terlihat berseri itu.
Sesampainya di rumah sakit, beliau segera mencari ruangan Yusuf dengan baju yang masih basah. Dan tidak selang lama ada salah satu dokter menghampirinya.
“Dengan keluarga saudara Yusuf?” Tanya dokter.
“Iya, dok. Saya ibu kandungnya Yusuf.” Ujar Bu Asma.
“Jadi begini, bu. Ada yang ingin saya beri tahukan kepada ibu.” Tambah dokter.
“Ada apa dok? Ada apa dengan anak saya?” Sahut Bu Asma sambil menangis.
“Anak ibu mengalami pendarahan yang luar biasa di bagian kepala. Dan tidak hanya itu bu, setelah kami periksa lebih dalam, ternyata anak ibu megidap penyakit liver yang bisa jadi di karenakan mengkonsumsi alcohol dan obat-obatan terlarang dengan jumlah yang banyak. Jadi anak ibu membutuhkan transplantasi hati secepatnya, kalu tidak akibatnya bisa fatal.” Ujar dokter.
“Innalillahiwainnalillahirojiun, apakah saya bisa mendonorkan organ hati saya untuk Yusuf dok?” Tanya Bu Asma dengan penuh harap.
“Bisa saja, bu. Tapi resikonya sangat tinggi. Beberapa efek samping yang mungkin akan muncul yaitu pendarahan, infeksi, penggumpalan darah, bahkan kematian.” Jelas dokter.
“Tidak apa-apa, dok. Asalkan anak saya selamat.” Jawab Bu Asma.
“Baiklah kalau begitu, besok pagi kita akan mulai operasinya.” Tambah dokter.
Keesokan harinya, Ibu Asma sudah siap untuk mendonorkan organ hati untuk sang anak tercinta. Dengan memakai baju opersai dan berbaring di kasur pasien, perlahan-lahan Bu Asma di bawa ke ruang operasi. Empat jam berlalu, operasi tersebut sukses di jalankan. Betapa leganya para dokter yang menangani operasi donor hati tersebut.
“Dokter…” Suara lirih Bu Asma memanggil salah satu dokter yang menanganinya.
“Alhamdulillah ibu sudah siuman. Ada apa, bu?” Tanya dokter.
“Tolong ambilkan tas saya itu, dok.” Suruh Bu Asma sembari menunjuk tasnya.
“Ini, bu.” Kata dokter memberikan tas Bu Asma.
Dengan tubuh yang masih lemas, beliau merogoh-rogoh tas miliknya seperti mencari sesuatu. Dokter yang pada saat itu bersamanya hanya bisa melihat apa yang di lakukan oleh Bu Asma dan tidak berani melarangnya.
“Saya titip ini, dok. Tolong berikan kepada anak saya setelah dia sadar.” Ujar Bu Asma sambil memberikan sebuah surat kepada dokter.
Setelah Ibu Asma memberikan surat itu, tiba-tiba dokter terkejut dengan suara yang berasal dari electrocardiography (alat pengukur denyut jantung) yang menandakan denyut jantung Bu Asma terhenti. Dengan sigap dokter memberikan pertolongan darurat kepada beliau. Tapi tuhan berkata lain, nyawa Bu Asma tidak tertolong. Pihak rumah sakit pun memulangkan jenazah Bu Asma ke desanya untuk di makamkan tanpa kehadiran sang anak yang masih koma.
Seminggu setelah kejadian itu, Yusuf siuman dari komanya. Ia menangis dan mencari-cari ibunya, Yusuf sangat menyesal telah menentang perkataan ibunya. Dia ingin meminta maaf dan bersujud kepada sang ibu.
“Akhirnya kamu sadar juga, kamu harus berterima kasih kepada ibu kamu.” Terang dokter.
“Maksudnya apa, dok. Mana ibu saya?” Kata Yusuf dengan menangis tersedu-sedu.
“Ibu kamu telah mendonorkan hatinya untuk menyelamatkan nyawa kamu. Tapi maaf, ibu kamu meninggal setelah operasi dan menitipkan surat ini untuk kamu.” Ujar dokter sambil memberikan surat titipan ibunya.
Dengan perasaan yang sangat sedih, Yusuf membaca surat dari ibunya dengan air bening yang tak henti-hentinya menetes dari kelopak matanya.
“Yusuf, maafkan ibu telah membuat kamu sengsara dengan kondisi ekonomi yang seperti ini nak. Sebenarnya ibu ingin membahagiakanmu, tapi ibu tidak mampu. Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu. Oh iya nak, ibu gak mau kalau kamu meninggalkan shalat lagi. Taubatlah nak, insha allah kamu akan menjadi bahagia dan mendapatkan apa yang kamu mau bila kamu terus mendekatkan diri kepada ALLAH SWT. Teruslah berdoa kepadanya nak, jangan pernah menyerah untuk menghadapi kerasnya dunia ini. Sudah dulu ya nak, ibu mau istirahat.” Isi surat tersebut.
Yusuf menangis tak henti-henti setelah membaca surat itu, ia sadar bahwa ibunya rela melakukan apa saja demi anak tercinta. Yusuf terus menyesali perbuatan kurang hajar terhadap ibunya. Sesekali ia berteriak untuk meluapkan kesedihannya yang mendalam.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, Yusuf mempunyai niat untuk berhijrah menuju jalan yang lebih baik dan menjauhi kebiasaan-kebiasaan buruknya dahulu. Ia ingin menuruti perkataan almarhumah ibunya yang sangat menginginkan dirinya untuk kembali mengingat dan beribadah kepada ALLAH SWT.
Di depan kaca almari yang terletak di dalam kamarnya, Yusuf bercermin melihat dirinya yang saat itu tengah mengenakan sarung dan baju kokoh. Perlahan ia memakai peci sambil bercermin, ia teringat saat masa-masanya dulu yang selalu di jalani bersama ibunda tercinta. Sedikit demi sedikit air mata membasahi pipi Yusuf, ia tak kuasa menahan kesedihannya.
Semenjak itu Yusuf rajin pergi ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah maupun mengikuti kajian ilmu. Pastinya ia mendapatkan banyak cobaan saat itu, cibiran dari para tetangga terus berdatangan bahkan hijrahnya di anggap hanya pencitraan oleh masyarakat. Tapi ia acuh dengan semua itu, ia tetap memantapkan hati untuk terus mendekatkan diri kepada ALLAH SWT.
Tidak lama selang ia berhijrah, tiba-tiba Yusuf mendapatkan kabar bahagia yang begitu bertubi-tubi. Dan yang paling membuat Yusuf senang ialah saat dirinya mendapat telepon dari suatu perusahaan ternama bahwa ia di terima bekerja di tempat tersebut. Dia sangat berterima kasih dan meminta maaf bahwa dulu ia berfikir bahwa ALLAH SWT tidak menyayangi dirinya, ia sangat bahagia dan merasa hidupnya begitu lengkap setelah ia berhijrah.
Hari demi hari ia menjalani hidup dengan suka cita. Dan pada suatu hari saat ia berbincang-bincang dengan teman kerjanya saat jam istirahat, tak sengaja ia melihat wanita cantik dengan hijab yang membalut kepalanya sedang menolong seorang kakek yang jatuh dari sepeda. Yusuf sangat kagum dengan wanita itu, ia terus menatap tajam wanita itu. Dan betapa terkejutnya Yusuf saat wanita itu melihat balik ke arahnya, sontak Yusuf memberi senyum kepada wanita itu, tapi wanita tersebut langsung menundukkan kepalanya dan segera pergi meninggalkan tempat tersebut.
Saat perjalanan pulang, Yusuf menyempatkan berhenti di masjid untuk shalat ashar sejenak. Betapa senangnya dirinya bahwa ada wanita tadi di masjid tersebut. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Yusuf memberanikan diri dan langsung menghampirinya untuk berkenalan.
“Assalamualaikum, ukhti.” Sapa Yusuf.
“Waalaikumsalam, akhi. Ada yang bisa saya bantu?” Jawabnya.
“Tidak, saya hanya ingin berkenalan denganmu saja. Nama saya Yusuf, kamu siapa?” Tanya Yusuf sambil menyodorkan tangan.
“Nama saya Aisyah, akhi.” Jawabnya singkat tanpa menjabat tangan Yusuf.
“Oh, bolehkah saya minta nomor Wa kamu?” Tambah Yusuf.
“Maaf akhi, untuk apa ya?. Kalau memang adaa perlu dengan saya, temui saja saya di masjid ini selepas bada ashar. Karena kebetulan saya mengajar anak-anak mengaji di sini.” Ujarnya.
“Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum.” Pamit Yusuf.
“Waalaikumsalam.” Jawab Aisyah singkat.
Saat di rumah malam hari itu, Yusuf tidak tenang karena selalu memikirkan Aisyah. Ia sangat kagum dengan keshalehan dan kesopanannya. Baru kali ini ia mendapati wanita yang bisa di katakan ‘perfect girl’ seperti Aisyah. Yusuf tidak mau kehilangan wanita seperti itu dan akan berusaha untuk mendekati Aisyah dengan cara apapun.
Beberapa bulan mereka selalu bertemu di masjid tempat Aisyah mengajar mengaji. Walau hanya sekedar basa-basi tetapi Yusuf terlihat sangat bahagia. Hingga pada suatu hari, Yusuf ingin menyatakan perasaannya kepada Aisyah.
“Aisyah, saya mau ngomong sesuatu sama kamu. Tapi kamu harus janji tidak akan marah kepada saya.” Kata Yusuf.
“Iya akhi, mau ngomong apa?” Ujar Aisyah.
“Sebenarnya saya itu suka sekali sama kamu, saya ingin mempunyai pacar shalehah seperti kamu.” Tambah Yusuf dengan malu-malu.
“Akhi, jangan pernah bermimpi untuk mempunyai pacar yang shalehah, karena wanita shalehah tak akan berpacaran namun langsung saja di lamar.” Ujar Aisyah.
“Di lamar? Memang kamu tidak malu mempunyai pasangan seperti saya?” Tanya Yusuf.
“Mengapa harus malu kalau niat kita untuk menyempurnakan agama. Bukankah lebih baik berpacaran setelah menikah dari pada pacaran sebelum menikah yang ujung-ujungnya terjerumus ke dalam dunia perzinaan.” Jelas Aisyah.
“Tapi saya belum menjelaskan semua tentang diri saya kepada kamu.” Tambah Yusuf.
“Tidak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak perlu itu, dan yang membencimu tidaak percaya akan itu.” Ujar Aisyah.
“Tapi aku tidak ada apa-apanya di bandingkan kamu yang sangat begitu baik dan sempurna.” Sahut Yusuf.
“Malu sebenarnya bila orang menganggap kita ini baik. Sedangkan kita tahu diri kita sendiri seperti apa, ini hanya karena ALLAH masih menutupi aib kita.” Jelas Aisyah.
“Baiklah kalau begitu, kapan aku bisa menemui orang tuamu?” Tanya Yusuf dengan wajah tersenyum kegirangan.
“Besok ayahku sudah siap untuk akhi temui, tak usah banyak-banyak maharnya. Cukup yang sederhana saja asalkan di peroleh dari hasil yang halal.” Ujar Aisyah sambil memberikan secarik kertas yang bertuliskan alamat rumahnya kepada Yusuf.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing dan menyiapkan untuk tunangan mereka esok hari. Yusuf pergi ke toko perhiasan untuk mencari cin-cin yang bagus untuk di gunakan melamar Aisyah besok siang.
Keesokan harinya, Yusuf menyusuri gang demi gang untuk mencari rumah Aisyah. Dan sesampainya di rumah Aisyah, Yusuf di sambut hangat oleh orang tua aisyah.
“Assalamualaikum.” Salam Yusuf sambil cium tangan dengan kedua orang tua Aisyah.
“Waalaikumsalam. Silahkan duduk, nak.” Kata Ayah Aisyah.
“Apa niat kedatangan kamu ke sini?” Tanya Ayah Aisyah dengan senyuman. Sedangkan Ibu Aisyah terlihat sedang berjalan bersama Aisyah ke ruang tamu untuk bergabung bersama-sama.
“Jadi begini pak, niat saya ke sini ialah untuk melamar Aisyah.” Jawab Yusuf sambil megeluarkan kotak cin-cin dari sakunya.
Orang tua Aisyah hanya tersenyum kecil saat melihat Yusuf menunjukkan cin-cin itu. tanpa sepatah apapun mereka hanya melihat cin-cin tersebut dan mengembalikannya kepada Yusuf. Yusuf terlihat sangat sedih karena ia berfikir bahwa lamaran telah di tolak mentah-mentah. Tapi betapa terkejutnya ia saat mendengar perkataan Ayah Aisyah.
“Kami tidak perlu mahar yang mewah, nak. Asalkan putri kami ini mau dengan kamu, maka kami akan merestui kalian untuk menikah.” Ujar Ayah Aisyah.
“Oh iya, siapa nama kamu nak?” Sahut Ibu Aisyah.
“Nama saya Yusuf Ibrahim, bu.” Jawab Yusuf sedikit gugup.
“Subhanallah, kalau begitu coba bacakan surat ‘Yusuf’ untuk kami” Tambah Ayah Aisyah.
“Tapi saya biasanya di panggil Kulhu, pak.” Ujar Yusuf dengan lugas.
Orang tua Aisyah hanya membalas perkataan Yusuf hanya dengan senyuman. Setelah di bicarakan kurang lebih satu jam, akhirnya orang tua Aisyah meminta mereka untuk menikah pada bulan depan dengan konsep sederhana.
“Saya mau tanya satu hal lagi sama kamu. Apa yang membuat kamu mencintai anak saya?” Tanya Ayah Aisyah sambil menatap tajam wajah Yusuf.
“Saya mencintai Aisyah karena agama yang ada padanya, pak. Jika dia hilangkan agama dalam dirinya, maka hilanglah pula rasa cinta saya terhadapnya.” Jawab Yusuf.
“Baiklah kalau memang seperti itu. kamu bersedia menikahi anak saya bulan depan?” Tantang Ayah Aisyah.
“Apa? Bulan depan, pak. Kok mendadak sekali.” Jawab Yusuf tercengang.
“Memangnya kenapa, kamu tidak mau? Kalau kamu tidak mau dengan terpaksa, saya akan nikahkan anak saya dengan laki-laki lain.” Tanggapan Ayah Aisyah.
“Bukannya begitu, pak. Soalnya saya masih belum punya modal untuk pestanya.” Ujar Yusuf.
“Tidak perlu yang mewah-mewah, asalkan sah. Untuk urusan itu biar kami saja yang pikirkan.” Sahut Ibu Aisyah dengan senyuman.
“Bagaimana, kamu siap?” Tambah Ayah Aisyah kepada Yusuf.
“Saya siap, pak.” Jawab Yusuf dengan menggebu-gebu penuh semangat.
Dan sampailah pada saat hari yang di tunggu oleh keduanya, yaitu hari di mana mereka akan mengucapkan ikatan cinta kepada ALLAH SWT. Busana putih bernuansa islam mereka kenakan saat hari itu, mereka bagaikan permaisuri dan raja yang sedang bergejolak asmara.
“Saya nikahkan anak saya dengan kemu Yusuf Ibrahim Bin Muhammad Yahya dengan mahar berupa cin-cin emas serta seperangkat alat shalat di bayar tunai.” Kata Ayah Aisyah dengan tegas yang saat itu menjadi wali nikah mereka.
“Saya terima nikahnya Aisyah Putri Binti Haji Suwardi dengan mahar tersebut di bayar tunai.” Jawab Yusuf.
“Alhamdulillah, bagaimana paraa saksi ‘sah’” Tanya pak penghulu kepadaa para tamu undangan.
“Sah….” Jawab para tamu dengan serempak.
“Wahai Aisyah. Mulai saat ini kita dapat berjamaah dengan tenang, dan mengaji bersama sebagai pasangan yang selalu bahagia.” Bisik Yusuf kepada Aisyah.
“Do’a ku selalu menyertaimu suamiku, dan aku akan melengkapi segala kekurangan yang ada pada dirimu.” Jawab Aisyah lirih dengan memberikan senyum manisnya.
Akhirnya mereka berdua menjadi pasangan yang sah menurut agama dan Negara, mereka sangat senang dan bahagia bisa menjalani bahtera pernikahan bersama-sama. Yusuf yang dulunya beranggapan bahwa ALLAH SWT tidak menyayanginya, berubah drastis setelah ia berhijrah dan di berikan semua kebahagiaan tersebut.


Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *