Bersama Maiyah, Islamku Begitu Sejuk

Jam telah menunjukkan pukul 7 malam, namun lapangan bola itu sudah separuh penuh dengan orang. Sebagian duduk beralaskan tikar yang disediakan panitia, kelihatannya mereka jamaah asli desa setempat. Sebagian lagi duduk beralaskan ala kadarnya. Anak-anak masih berkeliaran bermain dan belanja di sekitaran luar lapangan. Di atas panggung yang hanya setinggi kaki tersebut, ku lihat satu set gamelan sudah rapi di tempatnya untuk siap dibunyikan.
Ya, hari ini menjadi hari pertama aku menghadiri sebuah pengajian yang diisi kyai bernama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Aku sudah terbiasa mengikuti berbagai pengajian baik di desa maupun di luar kota. Bersama dengan seorang sahabat, ku mengambil tempat agak dekat di sisi kanan panggung. Tak lupa ku bawa secangkir kopi untuk dinikmati sembari menunggu pengajian dimulai.
Satu jam kemudian, jamaah semakin membludak. Ruang kosong yang berada pas di bawah panggung diisi oleh banyak pemuda yang berpakaian kurang pantas. Ya, aku menganggap pakaian mereka kurang pantas dibuat pengajian. Hanya berbaju dan berkaos oblong serta bercelana ala kadarnya, mereka duduk mengisi ruang kosong hingga tak ada lagi space tersisa di depan panggung. Pun demikian dengan sisi kanan dan kiriku. Banyak pula yang tidak berkopyah. Lambat laun aku yang merasa canggung dengan pakaian gamis dan berkopyah. Dapat dikatakan baru kali ini ku menikmati suasana pengajian yang berbeda.
Musik gamelan yang dibawakan personil Kiai Kanjeng mulai dibunyikan. Aransemennya seolah menggugah kerinduan akan tradisi dan warisan asli bangsa ini. Benar-benar bisa menyejukkan hati. Suara demung saron berpadu dengan biola dan gitar serta organ, memberi pelajaran bahwa apapun bisa dipersatukan menjadi irama yang indah.
Tak lama kemudian, Cak Nun pun tiba ke panggung bersama dengan banyak pejabat. Beliau tidak memulai dengan pembuka pidato sebagaimana umumnya, unik bagiku. Beliau hanya mengucap salam dan membahasnya, bahwa ketika orang mengucap salam maka ia berarti siap.menjamin keselamatan orang yang diucapkan baik keselamatan dirinya, hartanya, maupun martabatnya. Dari sini aku mulai tertarik, hal sedasar ini tak pernah ku dapatkan dari manapun. Selepas salam, beliau langsung mengajak membaca fatihah dan sebait sholawat, kemudian memperkenalkan satu per satu pejabat yang mengiringinya.
Selama dua jam sudah kami duduk, aku merasa Cak Nun tidak begitu banyak berceramah sebagaimana umumnya. Justru seolah kita sedang berdiskusi dan berdialog satu sama lain. Beliau hanya menyampaikan beberapa poin saja yang sebenarnya umum kami dengar namun tak benar-benar kami mampu memahami. Kebetulan waktu itu dekat dengan bulan Ramadhan, sehingga beliau pun tak lupa menyinggung beberapa poin tentang bulan Ramadhan. Seperti tentang maraknya kata-kata unuk menghormati orang berpuasa, beliau justru tegas menyatakan bahwa kita disuruh berpuasa itu justru untuk belajar menghormati lainnya.
Aku menyimpulkan bahwa beliau sangat up to date dalam menyikapi permasalahan dalam agama maupun kehidupan. Tak hanya itu, beliau lebih banyak berbicara tentang prinsip kemanusiaan dalam segitiga cinta Allah-Muhammad-Manusia agar tercapai kultur yang harmonis dan damai dalam setiap langkah hidupnya. Materi yang segar dan sesuai perkembangan zaman, membuat pengajian atau yang acapkali disebut sinau bareng ini terasa selalu hangat dan mengena dalam masing-masing individu.
Sinau Bareng ! Konsep yang diperkenalkan Cak Nun dan Kiai Kanjeng dalam setiap perjalanannya berkeliling Nusantara. Konsep tersebut menjelaskan bahwa setiap orang saling belajar bersama, mendengar dan menikmati kebersamaan, tanpa sekat maupun jarak yang lebar. Semua bisa salah disini, begitu yang selalu dikatakan Cak Nun. Oleh karena konsepnya sinau bareng, maka ada sesi untuk bertanya maupun mengungkapkan apapun di panggung. Tidak ada batas gender, ras, suku, maupun keyakinan. Maka tak heran seringkali ada kejutan-kejutan yang terjadi dalam sesi ini.
Begitulah Maiyah, yang mana kebersamaan dan kenikmatan dalam beragama menjadi tema utama. Memanusiakan manusia, menampung seluas mungkin berbagai macam manusia yang ingin dan sedang memproses dirinya untuk mencari cahaya Ilahi.


Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *