250 HARI MINAH (Bag 2)

Ayahku sekarat!’ suaranya hancur.
‘Ayahku sekarat!’ suaranya lebur.
‘Ayahku sekarat!’ suaranya hancur, lebur dan terkubur.
Kepala Minah medongak ke atas. Dilihatnya seorang anak perempuan kurus dengan kerudung biru berdiri tepat di depannya. Tangannya mengulur, menggenggam sepotong roti.
Minah diam. Tak mampu berkata.
‘Ayahku bilang kalau ada anak yang menangis, itu tandanya mereka lapar’ ucap anak perempuan tadi.
‘Aku bukan anak-anak!’ gengsi Minah meninggi.
Anak itu menggeleng pelan. ‘Tapi kau anak ayahmu.’
‘Ya, dan aku bukan anak ayahmu. Jadi pergi dan jangan ganggu aku.’
Anak itu memiringkan kepalanya. ‘Ayahku sudah meninggal’ tatapannya tanpa makna.
Minah tertegun. Makin diam seribu bahasa. Anak sekecil itu, bagaimana bisa melewati hari tanpa seorang ayah. Lalu, bagaimana dengan dirinya nanti?
‘Apa itu?’ telunjuk si anak berkerudung biru menunjuk pada pecahan arloji yang hancur.
‘Ini hadiah untuk ayahku.’ Mata Minah berkaca-kaca. ‘Mungkin ini hadiah terakhir untuknya.’
Anak itu kembali memiringkan kepalanya, ‘Ayahku sudah meninggal, tapi aku memberinya hadiah setiap hari.’
‘Mustahil!’
‘Sungguh! Aku tak bohong.’ Anak itu menggenggam erat kerudung yang dia pakai. ‘Guru ngajiku bilang, kalau anak perempuan yang memakai kerudung dan menjaga dirinya berarti memberi hadiah terbaik untuk ayahnya yang sudah meninggal.
Minah tertunduk kaku. Tidak tau harus melakukan apa. Arloji rusak di dalam genggamannya semakin hancur.
***
Minah sampai dirumah sakit. Ia tak datang dengan tangan kosong. Ia membawa hadiah untuk ayahnya. Arloji yang sudah rusak tadi masih ia genggam kuat-kuat. Ia menguatkan hatinya untuk melihat ayahnya yang sedang kesakitan, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Minah berdiri disamping ayahnya. Pak Dumajid sedari tadi tampak hanya tertidur. Namun karena Minah yang datang, ia sanggup membuka matanya. Ayah Minah meneteskan air mata. Ia melihat putri kesayangannya berdiri disampingnya dengan balutan kerudung yang menawan. Seakan-akan tiada beban, ayah minah menghembuskan napas terakhirnya dengan senyuman.
Seketika Minah langsung menangis. Delapan bulan, bahkan dua ratus lima puluh hari sudah ia lewati. Sekarang ayahnya sudah tiada dan Minah merasa ia pantas menangis. Abang Minah mendekat. Ditangannya ada sebuah kotak kecil dengan pita merah.
‘Ini dari ayah. Ayah bilang ini hadiah untuk ulang tahunmu yang kelima belas.’
Sambil terisak Minah membuka kotak hadiah itu. Tangisnya makin menjadi-jadi ketika melihat hadiah dari ayahnya adalah sebuah kerudung biru.


Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *