The Pursuit of Happiness

share

Sumber gambar: paperblog.com
Sumber gambar: paperblog.com

Sosok Chris Gardner dalam film The Pursuit of Happyness—sengaja ditulis dengan huruf “y”— memang digambarkan cerdas dan jenius. Tapi apa mau dikata, nasib berkata lain, kecerdasan bahkan kejeniusan tidak menjaminnya mendapat kehidupan yang beruntung.

Ber-setting pada tahun 80-an di San Francisco, California, film ini menceritakan Chris Gardner—diperankan oleh Will Smith—dan keluarganya yang hidup di rumah sewa kecil. Chris adalah salesman yang menjual beberapa alat scanner tulang (Bone Density Scanner) portable . Chris menjual alat ini ke beberapa rumah sakit. Karena harganya cukup mahal dan jarang ada rumah sakit yang mau membeli alat ini, maka tidak jarang dalam satu minggu Chris tidak memiliki penghasilan. Istrinya yang tak sanggup lagi hidup seperti itu akhirnya pergi. Bersamaan dengan itu Chris menerima tawaran magang tanpa dibayar di sebuah perusahaan pialang Dean Witter Reynolds yang menjanjikan pekerjaan bagi peserta magang terbaik. Dalam masa magang yang tak dibayar itu, Chris mulai kehabisan uang. Akhirnya ia dan anaknya diusir dari rumah sewanya. Selama beberapa hari ia tidur di rumah singgah Glide Memorial Chruch. Karena keterbatasan tempat, mereka harus mengantre untuk mendapatkan kamar. Terkadang mereka berhasil, terkadang gagal dan terpaksa tidur toilet stasiun.

Kisah Chris hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak perjuangan anak manusia dalam mencari kebahagiaan. Bagi Chris, kebahagiaan adalah jika ia dan anaknya dapat keluar dari jerat kemiskinan, dan Chris terus berjuang demi itu semua.

Kebahagiaan adalah satu persepsi yang ada di dalam manusia. Definisi kebahagiaan dari setiap orang tentu bebeda-beda. Jika Chris mendambakan paling tidak dapat menghidupi diri dan anaknya dan tidak terlantar, lain halnya dengan orang lain, termasuk kita. Mungkin dari sekian banyak persepsi yang ada, orang lebih banyak beranggapan bahwa memiliki harta adalah sebuah kebahagiaan. Bahkan ada juga yang menganggap harta saja tidak cukup sehingga tidak heran mengapa banyak hartawan yang berambisi demi kekuasaan. Mereka berlomba-lomba masuk partai bahkan membuat partai untuk melancarkan ambisi dirinya.

Coba kita renungkan ini: jika anak kecil ditanya apa yang paling menyenangkan? Biasanya ia akan menjawab dengan hal-hal yang menurutnya menyenangkan seperti bermain Play Stasion atau Tablet, jalan-jalan ke Mall, atau ke taman bermain, tapi apakah kita pernah menemukan jawaban mereka bahwa yang paling menyenangkan adalah mendapat perlindungan dalam pelukan hangat orangtua karena menyadari kelemahan dan ketidakberdayaan mereka.

Permintaan anak kecil kepada orangtuanya ibarat kita yang meminta sesuatu kepada Tuhan. Terkadang kita meminta sesuatu kepada Tuhan seperti seorang anak meminta sesuatu kepada orangtuanya. Kita selalu lupa meminta perlindungan Tuhan atas ketidakberdayaan kita sebagai manusia. Terkadang kita lupa bahwa rasa takut kita kepada Tuhan adalah sebuah kenikmatan. Sebaliknya, ketiadaan rasa takut kepada Tuhan merupakan ujian besar bagi kita. Jika demikian, pemikiran kita sejauh ini tidak jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh anak-anak. Padahal seharusnya, logika dan perasaan kita dapat lebih jauh dari apa yang dimiliki anak kecil.

Alangkah nyamannya hidup manusia bila mengetahui makna kepasrahan diri. Pasrah tidak identik dengan pasif sebagaimana yang dipahami selama ini, namun apa yang akan kita kerjakan terlebih dahulu diserahkan kepada Tuhan atas apa-apa yang nanti akan terjadi, barulah manusia berikhtiar. Dengan demikian, apabila yang kita inginkan nanti belum tercapai atau tidak sesuai dengan rencana maka tidak akan mengalami kesedihan dan kekecewaan itulah kebahagiaan yang hakiki.

Tak sulit sebenarnya belajar arti kepasrahan. Lihatlah Lie Agustinus Dharmawan yang membuat rumah sakit apung yang berlayar menyambangi pulau-pulau kecil untuk memberikan pengobatan cuma-cuma kepada kaum papa.

Lulusan S3 Free University Berlin, Jerman ini, sebenarnya pernah mendapat tawaran bekerja di Jerman, namun ia lebih memilih pulang dan mengabdi pada tanah airnya. Tak hanya menolak pekerjaan, tidak sedikit uang terkuras dari koceknya, bahkan, ia rela melepaskan seluruh atribut kebesaran profesinya demi mewujudkan harapan banyak orang itu. Kapal itu dibeli Lie dengan harga Rp 600 juta, uangnya berasal menjual rumah.

Kapal itu kemudian dimodifikasi menjadi dua tingkat dengan ruang operasi ditempatkan di lambung kapal. Dari penjelajahannya itu, Lie sudah megoperasi lebih dari seratus orang dan ribuan warga yang juga mendapatkan pengobatan gratis dariya.

Lie mungkin sedang mengamalkan fatwa ”Keinginan Adalah Sumber Penderitaan” Iwan Fals, sehingga mungkin ia tak butuh keinginan apa-apa lagi selain menjadi ”Matahari” yang selalu bisa memberi.

Sang Ayah meninggal pada saat Lie baru berusia sepuluh tahun, mau tidak mau, Pek Leng Kiau sang ibu menjadi tulang puggung keluarganya, demi menghidupi keluarga, sang ibu bahkan pernah menjadi buruh cuci. Kehidupan Lie di masa lalu yang memprihatinkan tak menjadikannya dendam terhadap dunia dan kehidupannya sekarang tak membuatnya tamak terhadap dunia. Jadi, apakah kita sudah mendefinisikan arti kebahagiaan bagi kita sendiri?

Hijrah Ahmad


Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *